Posted in

Book Review: Mari Bermimpi, Jalan Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik –  Paus Fransiskus

Mari Bermimpi, Jalan Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik merupakan buku yang berisi pandangan-pandangan Paus Fransiskus tentang masa krisis yang dihadapi umat manusia dan bagaimana kita bisa menemukan peluang-peluang untuk berubah menjadi lebih baik.

Buku ini lahir di masa pandemi covid-19. Pada malam Paskah Tahun 2022, jurnalis Austin Ivereigh mendapat kesempatan untuk mewawancarai Paus Fransiskus di tengah masa karantina wilayah. Dalam percakapan mereka, Paus Fransiskus berbagi pandangannya tentang godaan, halangan, dan peluang yang bisa kita jumpai dalam masa krisis. Percakapan ini kemudian berlanjut dan memotivasi Ivereigh untuk mengembangkannya menjadi sebuah buku yang bisa diakses banyak orang. Ide sang Jurnalis disambut baik Bapa Suci dan terbitlah edisi perdananya pada Desember 2022.

Aturan dasar dalam suatu krisis adalah bahwa anda tak mungkin keluar darinya seraya tetap menjadi pribadi yang sama. Kalau anda berhasil melaluinya, anda akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, tetapi tak pernah sama saja.” Paus Fransiskus – Mari Bermimpi, Jalan Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik (hal vii).

Saya membeli buku ini tak berapa lama setelah kunjungan Paus ke Indonesia (3-6 September 2024). Buku tersebut merupakan versi Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Y. D. Anugrahbayu dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku setebal 200-an halaman ini terdiri dari sebuah prolog, tiga bagian utama, epilog, dan sejumlah catatan tambahan Austin Ivereigh tentang proses pengembangan buku dan beberapa referensi terkait topik-topik yang dibahas dalam buku.

Prolog buku ini dimulai dengan satu gagasan yang menarik; “memasuki masa krisis sama artinya dengan ditampi”. Di masa genting itu, perspektif dan prioritas hidup kita ditantang. Bapa Paus juga menggarisbawahi bahwa setelah masa krisis kita akan keluar sebagai pribadi yang berbeda. Di bagian ini, pandemi Covid-19 dipandang istimewa karena dampaknya begitu mencolok dan dirasakan semua orang. Beberapa cerita Alkitab juga dihadirkan dalam bagian ini dan memberi gambaran tentang bagaimana manusia menimbang dan membuat keputusan di masa-masa pelik, serta bagaimana Tuhan menawar jalan keluar.

Sementara itu, bagian utama buku ini dibagi dalam 3 topik; Saatnya Melihat, Saatnya Memilih, dan Saatnya Bertindak.

Pada bagian Saatnya Melihat, kita bisa merefleksikan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi krisis-krisis dalam hidupnya. Meski begitu, penderitaan bisa membantu kita untuk mengevaluasi pandangan-pandangan kita tentang kehidupan. Dengan demikian, kita bisa menemukan peluang-peluang untuk kehidupan baru yang lebih baik.

Selanjutnya, bagian Saatnya Memilih mengajak kita untuk menimbang-nimbang kemudian memutuskan jalan masa depan apa yang akan kita pilih. Pada bagian ini Paus Fransiskus banyak membahas tentang pembedahan-pembedahan roh, dimana dinasehati untuk tidak mengandalkan kenyamanan-kenyamanan semu tapi membuka diri untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang hakiki. Bagian ini memberi penekanan bahwa masa krisis adalah momen pembeda, yang membuat kita sadar terhadap ketidakadilan dan merenung secara mendalam pilihan-pilihan yang akan kita buat.

Kebenaran ada di luar diri kita, selalu melampaui diri kita, tetapi memberi isyarat kepada kita melampaui hati nurani kita.” Paus Fransiskus – Mari Bermimpi, Jalan Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik (hal 67).

Dan di bagian terakhir (Saatnya Bertindak), Paus memberi penekanan pada kesadaran kita sebagai bagian dari suatu bangsa/umat. Ia berpendapat, karakter asli bangsa dapat terukur melalui respon-respon kita terhadap penderitaan. Kesadaran kolektif bahwa kita semua memiliki tujuan yang sama menuju masa depan yang lebih baik merupakan elemen penting yang bisa membawa kita keluar dari masa krisis. 

Sebab, yang menyelamatkan kita bukanlah gagasan, melainkan perjumpaan. Hanya wajah orang lain yang sanggup membangkitkan apa yang terbaik dalam diri kita”. Paus Fransiskus dalam Mari Bermimpi (hal 140).

Dalam buku Mari Bermimpi: Jalan Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik, kita akan menemukan konsistensi pemikiran-pemikiran Paus Fransiskus tentang krisis-krisis sosial dalam masyarakat, praktik-praktik ekonomi global, ajakan untuk berdialog dan pergi ke pinggiran dunia untuk melihat penderitaan masyarakat yang terabaikan, serta panggilan untuk melihat persoalan-persoalan lingkungan hidup.

Bagi saya muatan buku ini cenderung ringan di awal dan mulai berat pada dua bagian terakhir. Tapi jangan kuatir, buku ini tidak ditulis dengan kalimat yang berat. Isinya cukup mudah untuk dicerna.

Saat membaca buku ini saat tengah menghadapi suatu masa pelik dan buku ini memberi pengaruh yang positif. Buku ini bisa memberi kita satu momen karantina jiwa dan pembedaan-pembedaan roh. Mungkin dalam permenungan, kita bisa menemukan bahwa pilihan-pilihan terbaik dalam hidup kerap lahir dari masa-masa krisis sejauh kita memilih tindakan-tindakan yang mengijinkan kita bertumbuh jadi lebih baik.

Arahan untuk menuju masa depan yang lebih baik bisa direfleksikan lewat apa yang ada pada epilog buku ini. Ada dua hal yang perlu kita lakukan, “bergeser dari pusat” (decenter) dan “melampaui” (transcend).

Cermati di mana anda berpusat, dan geserlah diri anda dari pusat itu…. Krisis memaksa anda untuk bergerak, tetapi orang bisa bergerak tanpa pergi kemanapun.” Paus Fransiskus – Mari Bermimpi, Jalan Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik (hal 181).

Paus Fransiskus berpesan, kita tidak bisa menjadi seperti wisatawan, yang hanya pergi menghindari rutinitas yang menyesakkan dengan mengunjungi suatu tempat untuk bersantai, lalu pulang dan menemui situasi yang sama. Kita perlu menjadi peziarah.

“…peziarah, seseorang yang keluar dari dirinya, membuka diri terhadap horizon baru, dan ketika pulang, kita tak lagi sama, demikian pula rumah kita pun tak lagi sama”. Paus Fransiskus – Mari Bermimpi, Jalan Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik. (hal 182).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *