Angsa Liar, novel klasik Jepang yang ditulis Mori Ogai. Sebuah cerita cinta yang memikat dalam kesederhanaanya.

Novel ini pertama kali terbit dengan judul Gan pada tahun 1911. Mori Ōgai, nama pena dari Letnan Jenderal Mori Rintarō, seorang ahli bedah militer Jepang, dikenal sebagai penulis yang berperan penting dalam memperkenalkan terjemahan karya-karya sastra Eropa kepada masyarakat Jepang.

Buku yang saya miliki merupakan edisi terjemahan Bahasa Indonesia oleh Ribeka Ota, diterbitkan oleh Taman Moooi Pustaka pada tahun 2019. Novel setebal 153 halaman ini sarat dengan nuansa Jepang. Beberapa istilah asli mungkin terasa asing bagi pembaca, namun penjelasan yang disediakan pada tujuh halaman catatan di bagian akhir membantu memperjelas konteks budaya. Kehadiran istilah-istilah tersebut tidak menjadi hambatan, melainkan justru memperkaya pengalaman membaca, karena pembaca diajak masuk ke dalam atmosfer keseharian Jepang pada masa itu.

Cerita novel ini terfokus pada dua tokoh utama – Otama dan Okada. Kisah keduanya diceritakan 35 tahun kemudian melalui sudut pandang seorang anonymous narrator – seorang mahasiswa kedokteran seperti Okada dan sama-sama tinggal di kos Kamijo, di seberang Universitas Tokyo. Sudut pandangnya berdasarkan pengamatan pribadi dan cerita Otama.

Sang narator tampak mengagumi Okada. Ia menggambarkannya sebagai seorang pemuda yang tak berbeda dengan mahasiswa di kos yang mereka tinggali. Okada merupakan figur yang ideal; tampan, sehat, tenang, berwibawa, dan mudah bergaul. Ia dikagumi sekaligus dihormati. Hal ini juga yang membuat Otama tertarik padanya.

Otama merupakan seorang perempuan muda dan cantik. Ia tinggal bersama ayahnya. Keluarga mereka miskin, sehingga pernikahan menjadi semacam salah satu jalan untuk meraih hidup yang lebih baik. Namun ayah dan anak ini sangat saling menyayangi. Sedihnya, Otama menikahi pria-pria yang tidak memberi ia kebahagiaan. Suami pertamanya adalah seorang polisi yang telah beristri. Setelah lepas dari lelaki itu, ia menikahi seorang renternir lewat perjodohan yang dijembatani oleh seorang nenek. Suezo, suami keduanya sering memberi pinjaman kepada mahasiswa.

Suezo amat menyukai Otama tapi ia juga tak bisa meninggalkan keluarganya. Ia membelikan Otama sebuah rumah, demikian pula ayah mertuanya. Otama menghabiskan hari-harinya di rumah itu, menunggu kunjungan suaminya atau sesekali mengunjungi ayahnya. Hidupnya amat kesepian sampai akhirnya dia melihat Okada. Pemuda itu sering lewat di area tempat tinggalnya. Setelah hanya saling memandang lewat jendela, suatu hari Okada membuka topi dan memberi salam. Gestur ini seketika membuat cerah hari-hati hidup Otawa.

Dalam satu kesempatan yang lain, keduanya akhirnya bisa saling bercakap-cakap. Sayangnya hubungan keduanya hanya sebatas saling penasaran dan menunggu dalam harap. 

Novel ini ringan dan memikat meski berlatar masyarakat Jepang di tahun tigabelas Meiji. Kehidupan Otama merefleksikan tantangan yang dihadapi para perempuan tradisional dan sederhana di masa itu. Nikmat cerita yang ditawar novel ini membuat saya enggan berpisah dengan tokoh-tokohnya ketika saya tiba di bab terakhir.

Mori Ōgai menutup Angsa Liar dengan tipe akhir cerita yang saya sukai: mengguncang sekaligus meninggalkan kesan mendalam di hati. Narator kembali menegaskan apa yang telah ia sampaikan di awal—bahwa kisah Otama dan Okada adalah cerita lama, dituturkan setelah tiga puluh lima tahun berlalu. Sebagai teman sekamar Okada, ia menuliskannya berdasarkan pengalaman bersama Okada dan kisah yang ia dengar dari Otama. Namun, dalam novel kita tidak menemukan interaksi langsung antara narator dan Otama. Hal ini justru membuka ruang pertanyaan: bagaimana sang narator bisa berkenalan dengan Otama dan memperoleh cerita dari perempuan itu?

By Vie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *