Musim Panas Penghabisan merupakan sebuah novel epistolary politik yang ditulis oleh Ricarda Huch (1864 – 1947), sastrawan dan intelektual perempuan terkemuka Jerman. Novel yang saya miliki diterbitkan oleh Moooi Pustaka dan diterjemahkan oleh Tiya Hapitiawati. Novel ini sungguh patut dibaca. Tebalnya hanya 151 halaman, tak terlalu tebal untuk sebuah novel dengan gaya bercerita yang menarik.

Novel ini termasuk salah satu karya fiksi favorit saya karena pola berceritanya yang berbeda dari kebanyakan novel yang saya baca. Novel epistolary menampilkan rangkaian peristiwa melalui surat-surat, journal, atau dokumen-dokumen. Dalam Musim Panas Penghabisan, kita akan menikmati rangkaian cerita lewat surat-surat yang ditulis para tokohnya. Hal ini memungkinkan kita membangun intimasi dengan karakter dan pemikiran tokoh-tokohnya. Surat-surat ini ditulis sepanjang liburan musim panas, sekitar Mei – Juli.

Musim panas itu menengangkan bagi keluarga Yegor von Rasimkara, seorang Gubernur di Rusia. Ia mendapat ancaman pembunuhan karena menghentikan perkuliahan di universitas. Ia memutuskan begitu setelah perlawanan mahasiswa atas penangkapan seorang profesor yang sangat dihormati.

Sang gubernur kemudian memutuskan untuk cuti ditengah situasi politik yang tegang dan kondisi kesehatannya yang buruk. Ia kemudian menghabiskan liburan panas bersama istri dan ketiga anaknya di pedesaan. Demi keselamatan sang gubernur, istrinya menyewa seorang pengawal bernama Lyu. Sang pengawal merupakan seorang pemuda intelektual yang belajar filsafat, berkarisma, dan bijak. Kehadirannya menenangkan hati sang istri dan karakter uniknya dikagumi anak-anak sang gubernur. Tanpa sepengetahuan mereka, Lyu merupakan penyusup dari kelompok revolusioner yang bertugas untuk mengabisi sang gubernur.

Melalui surat-surat yang ditulis Lyu sang penyusup kepada kawannya, Konstantin, kita bisa mengikuti bagaimana rencana-rencana pembunuhan sang gubernur disusun. Lewat surat-surat pula, kita bisa merasakan kondisi batin para anggota keluarga sang gubernur dan suasana rumah mereka dari hari ke hari. Surat-surat para tokohnya kadang panjang, kadang pendek, tergantung karakter para tokohnya dan apa yang mau mereka sampaikan. Kita bisa mengeksplorasi respon mereka dan peristiwa-peristiwa apa saja yang mempengaruhi mereka. Mungkin kita bisa terombang-ambing menebak-nebak kejujuran perasaan para tokoh lewat surat-surat yang disampaikan si tokoh kepada orang berbeda atau cerita-cerita yang disampaikan dalam surat dari tokoh satu ke tokoh lainnya.

Novel epistolary ini sungguh nikmat. Kita bisa merasakan ketegangan dalam konflik-konfik batin maupun pertentangan-pertentangan pendapat dalam sebuah keluarga, juga kasih sayang antar keluarga dan kenaifan dalam cara pandang manusia terhadap suatu keadaan. Menarik sekali membaca surat-surat sang istri, kedua anak perempuannya Jessika dan Katya, dan anak lelakinya Welya. Belakangan saya juga mulai menebak-nebak bagaimana perasaan Lyu. Surat dapat membuat kita terbuka mencurahkan isi hati atau mengelak apa yang kita rasakan.

Novel ini ditutup dengan surat sang gubernur kepada putrinya – Welya dan Katya. Surat sang ayah yang penuh cinta dan suasana kekeluargaan. Surat ini tak selesai sebab bagian itu menutup novel dengan kejutan yang mencengangkan. Bagian akhir novel ini sungguh memotret musim panas terakhir sebuah gubernur. Dari panasnya politik, kehangatan keluarga, dan runtuhnya berbagai kekuatan. Richarda Huch begitu lihai menggambarkan ketegangan Rusia pra-revolusi dengan cara intim. Melalui surat-surat, ia menampilkan sisi-sisi manusiawi manusia di balik pada kerasnya perjuangan kaum revolusior dan para politikus.

By Vie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *