Gereja membutuhkan seorang gembala yang otentik dan bersemangat mewartakan Kabar Gembira, yang memberikan harapan bagi banyak hati manusia … yang membaktikan diri terutama bagi pewartaan Kabar Gembira, pada pewartaan Kristus yang merupakan karya agung kasih karunia Allah.”  

Andrea Tornielli dalam Fransiskus, Paus dari Dunia Baru hal. 46.

Fransiskus, Paus dari Dunia Baru merupakan buku biografi Paus Fransiskus yang ditulis oleh Andrea Tornielli. Saya membaca versi Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh RF. Bhanu Viktorahadi, Pr dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku setebal 235 halaman ini memotret perjalanan hidup Jorge Mario Bergoglio sampai terpilih menjadi pemimpin agama katolik sedunia.

Saya sangat menyukai buku ini, melebihi drama biografi dalam film Two Popes, yang entah sudah berapa kali saya tonton. Film itu memberi kita interpretasi visual dan dramatik tentang relasi Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus, tapi buku yang ditulis Andrea Tornielli ini memungkinkan kita menikmati dan membangun refleksi-refleksi personal yang mendalam dari perjalanan panjang seorang Jorge Mario Bergoglio hingga menjadi Paus Fransiskus.

Buku ini dimulai dengan satu bagian pengantar yang berjudul ‘Saya Memohon Kepadamu, Doakan Saya…”, permohonan rendah hati yang disampaikan Paus Fransiskus sejak ia tampil di hadapan banyak orang di Pelataran Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Halaman-halaman selanjutnya dibagi dalam sebelas bagian. Bagian pertama mengurai suasana pada rabu malam 13 Maret 2013, ketika ribuan orang berdiri di bawah hujan dan udara dingin sambil menanti tanda dari cerobong asap Kapel Sistina. Mereka terus mendongak ke arah itu, meskipun hari itu tetap memberi peluang munculnya asap hitam – tanda para kardinal elektoral belum mencapai keputusan. Asap hitam membumbung sejak hari sebelumnya dan sepanjang hari rabu itu.

Penantian malam itu kemudian berbuah sukacita. Menit-menit sekitar 19.00, seekor burung camar bertenger pada cerobong asap Kapel Sistina. Burung-burung sejenis lainnya pun terlihat bertenger di layar-layar raksasa di pelataran depan Basilika Santo Petrus. Jam 19.05, asap putih membumbung dan orang-orang bersukacita. Paus baru telah terpilih. Beberapa waktu kemudian, Kardinal Proto-Diakon Jean-Louis Tauran muncul dihadapan ribuan orang dan mengumumkan “Annuntion Vobis Gaudium Magnum, Habemus Papam”.

Konklaf kali itu memberi kejutan yang manis. Kardinal Bergoglio terpilih sebagai Paus pertama dari Amerika Latin, pertama dari ordo Jesuit, pertama memilih nama Fransiskus dari Asisi. Nama ini memberi tanda akan adanya perubahan pada gereja Katolik. Hal ini kemudian didukung kejutan lain setelahnya. Sang Paus Baru tampil dengan bersahaja. Ia tidak memakai jubah kepausan yang megah, sepatu merah, dan kalung salib mewah. Ia memilih tampil sederhana, dengan jubah putih dan kalung salib yang biasa ia kenakan. Dia menyapa umat dengan sapaan ‘selamat malam’ – ucapan yang langsung mencuri hati banyak orang. Setelah mengucapkan beberapa kalimat membuka, ia kemudian meminta semua orang untuk berdoa bersama untuk pendahulunya, Paus Benediktus XVI dan dirinya sendiri. Hal ini dilakukannya sebelum ia memberi berkat Urbi et Orbi. Ajakan doa itu membuat pelataran Basilika Santo Petrus yang riuh seketika hening ketika Paus Fransisku menunduk dan berdoa bersama umat yang akan digembalakannya.

Jorge Mario Bergoglio ini telah memberi kesan yang mendalam sejak ia tampil di Vatikan sebagai Paus Fransiskus. Namanya bukan nama popular dalam prediksi-prediksi para pengamat selama berlangsungnya konklaf. Kelak nama itu disadari menempati urutan kedua setelah kardinal Joseph Aloisius Ratzinger pada pemilihan Paus sebelumnya di tahun 2005. Banyak orang berpendapat, para kardinal elektor pasti masih melihat kualitas yang sama pada diri Kardinal Bergoglio sehingga dia masih menjadi kandidat kuat sebagai suksesor Paus terdahulu.

Kehidupan Jorge Mario Bergoglio sama istimewanya dengan penampilan perdananya sebagai Paus Fransiskus. Buku biografi ini memotret perjalanan hidupnya sebagai manusia yang kemudian menanggapi panggilan hidup sebagai seorang imam. Lewat buku ini, kita akan menjamah serangkaian peristiwa hidup yang membentuk pribadi, pandangan-pandangan, dan pilihan-pilihan hidup yang diambil sang Paus. Hati saya dipenuh kegembiraan sepanjang membaca buku ini. Buku ini bisa menjadi awal baik untuk mengenal Paus Fransiskus sebelum membaca buku atau dokumen lainnya tentang pandangan-pandangan hidupnya yang bersahaja dan mempengaruhi perjalanan imamatnya hingga menonjolkan gereja katolik yang semakin peduli pada kaum papa.

By Vie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *