Book Review: Matinya Kepakaran – Tom Nichols

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise) menyuarakan kegelisahan banyak orang di era digital—sebuah situasi yang terasa sejalan dengan kutipan Charles Bukowski: “The problem with the world is that the intelligent people are full of doubts, while the stupid ones are full of confidence.”

Buku Matinya Kepakaran: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudarat adalah karya nonfiksi yang ditulis oleh Tom Nichols, seorang akademisi sekaligus pakar dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan luar negeri. Pertama kali diterbitkan pada tahun 2017, buku ini segera memicu polarisasi tajam dalam respons publik, terutama terkait isu internet, pendidikan, dan budaya politik.

Saya pertama kali mendengar tentang buku ini dari sebuah diskusi seputar bagaimana manusia di era post-truth. Saya akhirnya membeli versi digitalnya lewat aplikasi Gramedia Digital, karena versi cetak membutuhkan waktu lama untuk tiba, sementara rasa penasaran saya sudah tak tertahankan. Edisi Bahasa Indonesia yang saya baca diterjemahkan oleh Ruth Meigi P. dan diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Tebal buku ini sekitar 300 halaman dan terdiri dari sekitar 7 bagian utama.

Buku ini sangat relevan dengan zaman kita. Fenomena ini menunjukkan bagaimana semakin banyak orang menolak pengetahuan resmi, gelar akademik, dan pendapat para ahli. Sebagai gantinya, kita lebih percaya pada intuisi pribadi atau suara bising yang viral di media sosial. Matinya Kepakaran (The Death of Expertise) merupakan sebuah peringatan keras bahwa runtuhnya kepercayaan pada pakar bukan sekadar soal akademis, melainkan ancaman nyata bagi cara kita memahami kebenaran di era digital.

Mengapa kepakaran bisa mati? Siapa yang membunuh kepakaran?

Dalam buku ini, Tom Nichols tampil cukup provokatif ketika menyuarakan kegelisahan tentang matinya kepakaran. Kegelisahan itu mudah kita pahami, sebab kita pun bisa merasakan keresahan yang sama jika berhadapan dengan situasi – ketika pendapat pakar diabaikan tanpa alasan yang jelas.

“Matinya kepakaran bukan hanya penolakan terhadap pengetahuan yang sudah mapan. Pada dasarnya ini adalah penolakan terhadap sains dan rasionalitas tak memihak yang merupakan dasar peradaban modern.”

Tom Nichols – Matinya Kepakaran: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudarat (hal 6)

Buku ini lantang mengungkap fenomena era post-truth (pasca-kebenaran), ketika siapa pun merasa bisa menjadi pakar. Banyak orang mengonsumsi informasi tanpa benar-benar memahami apakah kebenaran itu valid. Suara para ahli pun tak lagi didengar sebab kini sering disejajarkan dengan opini personal. Lebih jauh, kita begitu percaya diri bahwa berbagai persoalan dapat ditangani tanpa melibatkan pengetahuan khusus—padahal sebagian besar justru dikuasai oleh pakar.

Buku ini relevan bagi siapa saja yang prihatin terhadap menurunnya penghargaan masyarakat pada kepakaran. Keprihatinan itu beralasan, mengingat kompleksitas persoalan di milenium ini, misalnya isu perubahan iklim yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam situasi seperti itu, dukungan pakar sebenarnya krusial untuk membantu kita mengambil keputusan rasional. Sayangnya, hari demi hari, kepakaran kian terpinggirkan.

Nichols menyoroti realitas bahwa masyarakat modern semakin enggan menghargai pakar. Bagian awal bukunya membahas bias-bias kognitif, terutama bias konfirmasi dan efek Dunning–Kruger—di mana seseorang dengan pengetahuan terbatas justru cenderung melebih-lebihkan kemampuannya. Menurut Nichols, matinya kepakaran bukan sekadar akibat rendahnya tingkat informasi atau ketidakpedulian terhadap pengetahuan mapan, melainkan muncul dari sikap permusuhan terhadap pengetahuan itu sendiri.

Ketegangan antara pakar dan orang awam memang telah lama ada, tetapi kini jauh lebih masif. Dulu, orang awam tidak memiliki cara substantif untuk menentang pakar. Kini, dengan internet, siapa saja bisa merasa percaya diri dengan pengetahuan seadanya dan tampil seolah-olah sebagai pakar.

Mengapa Kepakaran Mati?

Menurut Nichols, ada beberapa faktor yang memungkinkan matinya kepakaran, diantaranya:

Sifat Manusiawi Kita

Kita lebih suka memihak pada hal-hal yang menguntungkan kita dan menolak hal-hal yang merugikan kita.

Sistem Pendidikan Tinggi Berubah

Perguruan tinggi tidak lagi menjadi tempat belajar dan pengembangan karakter, pengetahuan, dan ketrampilan. Pengelolaan universitas lebih melihat mahasiswa sebagai pelanggan dan berorientasi pada kepuasan mereka. Konsekuensinya perguruan tinggi akan memproduksi lulusan-lulusan dengan kualitas pendidikan yang tidak memuaskan.

Internet

Di era digital ini, internet memungkinkan adanya tsunami informasi. Siapa saja bisa berselancar dan meneguk informasi di internet. Siapapun merasa bisa menjadi pakar meski tak memiliki pendidikan formal atau pengalaman profesional yang menunjang suatu kepakaran. Google seperti sekolah murah yang bisa meluluskan pakar dalam sekejab. Internet memberi panggung bagi selebriti dan influencer untuk mengambil ahli pakar dalam memberi saran dan aneka pertimbangan. Kepopuleran awam begitu menguasai, dan menguburkan pendapat-pendapat pakar.

Jurnalisme Gaya Baru

Dengan adanya internet, banyak pemberitaan yang kejar tayang tanpa proses pengecekan fakta yang cermat. Akibatnya media bisa menyuapi masyarakat dengan informasi-informasi yang kurang mapan maupun keliru.

Kesalahan Pakar

Pakar juga bisa berbuat salah, terutama ketika pakar terlibat dalam membuat prediksi. Hal ini sering terjadi karena orang awam dan pembuat kebijakan cenderung menyukai prediksi sehingga pakar seringkali setuju untuk melayani hal itu. Pakar juga bisa terlibat dalam penipuan atau berbuat curang.

Meski begitu, Nichols juga mengggarisbawahi, meski pakar berbuat salah, “umumnya pakar akan memeriksa kesalahannya sendiri, tetapi tidak di tempat yang mungkin akan dilihat masyarakat” (hal 248). Pakar punya secama support system untuk memastikan akuntabilitas pendapat mereka. Kesalahan pakar biasanya terkoreksi melalui mekanisme akademik seperti peer review, replikasi, dan kritik sejawat, sehingga dampaknya lebih terbatas dibanding kesalahan awam yang sering tidak terkoreksi dan justru menyebar luas.

Dampak Matinya Kepakaran

Matinya kepakaran bisa berdampak pada demokrasi. Penolakan terhadap pakar akan berdampak penolakan pada demokrasi yang rasional sebab masyarakat tidak bisa membedakan fakta dan opini. Masyarakat harus memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat. Masyarakat juga perlu paham, pakar memang memberi saran pada pengambil kebijakan tapi mereka tidak pernah mengontrol bagaimana para pemimpin menerapkan saran mereka. Pakar juga seringkali tidak terlalu jauh terlibat dalam perumusan dan eksekusi kebijakan dan tidak mengontrol sejauh apa para pejabat memanfaatkan saran mereka. Mereka hanya memberi pertimbangan tapi tidak mendikte apa yang harus dilakukan masyarakat.

Nichols menutup bukunya dengan satu realita yang memprihatinkan. Pakar sering tak berdaya menghadapi kuatnya ketidaktahuan publik. Ini reaksi pesimistis yang bisa kita sepakati dengan menimbang aspek-aspek matinya kepakaran yang telah Nichols uraikan.

Kepakaran, Jangan Sampai Mati!

Buku ini seakan memberi solidaritas bagi siapa saja yang merasakan tantangan di tengah matinya kepakaran. Dalam dunia profesional, banyak dari kita mungkin pernah mengalami bagaimana pengetahuan yang diperoleh lewat pendidikan formal atau pengalaman panjang sering kali diabaikan begitu saja. Bahkan di bidang sains, matematika, maupun teknik—yang memiliki standar ketat untuk menilai reliabilitas informasi—suara pakar tetap bisa disepelekan oleh sebagian orang.

Sering kali masyarakat awam merasa bebas mempertanyakan pengetahuan mapan, sementara para pakar menanggung beban moral untuk tetap menyuarakan kebenaran. Harapannya, para pakar tidak kehilangan semangat dalam berkarya, dan masyarakat awam pun semakin terbuka untuk belajar, lebih cermat dalam menilai informasi, serta bersedia menerima masukan dari para ahli.

_Vie

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *